Pertunjukan ‘Gamolan‘ Siap Pecahkan Rekor Muri

Standar
'Gamolan'

'Gamolan'

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pertunjukan gamolan Lampung siap memecahkan rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri) dengan kategori pertunjukan alat musik tradisional terlama di Indonesia.

Asisten III Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekprov Lampung Relliyani mengatakan Rabu (7-12) mendatang pertunjukan gamolan akan digelar selama 25 jam oleh 25 grup dengan 25 gamolan.

Jika berjalan dengan baik selama 25 jam, pertunjukan gamolan Lampung itu akan memecahkan rekor atraksi alat musik tradisional sebelumnya yang hanya berlangsung selama 24 jam.

“Sebenarnya yang terpenting itu bukan hanya rekor Muri-nya, tapi bagaimana mengenalkan alat musik gamolan kepada generasi muda di Lampung dan seluruh masyarakat Indonesia”

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Lampung itu menjelaskan gamolan merupakan salah satu alat musik tradisional Lampung tertua yang kini banyak dilupakan masyarakat.

Penghargaan

Relliyani menuturkan peneliti asal Australia, Margaret J. Kartomi, pernah meneliti tentang alat musik tradisional di Lampung dan menemukan gamolan sebagai alat musik tertua di Lampung. Alat musik itu ditemukan pada abad ke-3 dan ke-4 di Lampung Barat dan Way Kanan.

Bahkan, ujar dia, gamolan khas Lampung tergambar di salah satu relief Candi Borobudur. “Karena tulisan dalam bukunya menggugah kembali pelestarian gamolan Lampung, majelis penyeimbang adat akan memberi penghargaan kepada Margaret,” kata dia.

Selain pemecahan rekor Muri dan pemberian penghargaan, pada kegiatan tersebut Pemprov juga akan merayakan nikah massal bagi 50 pasangan suami-istri yang sebelumnya hanya nikah siri.

Selain itu, ada juga pawai kendaraan hias dari Tanjungkarang ke Telukbetung. Pemprov Lampung juga berencana mematenkan alat musik tradisional Lampung, gamolan pekhing dan cetik.

Sekprov Lampung Berlian Tihang mengatakan kini negara lain, seperti Malaysia, berupaya mengakui kesenian Indonesia, seperti batik, reog, dan gamelan.

Jika alat musik tradisional Lampung tidak segera dipatenkan, Pemprov khawatir suatu saat bisa direbut dan diakui menjadi milik negara lain.

“Akan kami upayakan ada hak kekayaan intelektual dan hak paten pada alat musik tradisional Lampung. Kalau sudah dipatenkan, mereka tidak bisa lagi mengakui apa yang bukan milik mereka,” kata Berlian usai menghadiri Pergelaran Gamolan Pekhing di Balai Keratun beberapa waktu lalu.

Selain itu, masyarakat Lampung, khususnya generasi muda, harus sering membuat kegiatan kesenian tradisional yang menampilkan kerajinan tangan, tarian, lagu, dan alat musik. Tujuannya agar semakin banyak generasi muda yang mengetahui khazanah kesenian tradisional Lampung.

“Semakin banyak yang tahu kesenian tradisional Lampung, pasti sulit diakui pihak lain,” ujar dia. (LIN/K-2)

Sumber: Lampung Post. Sabtu, 03 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s