Lampung Tercatat dalam Muri Penabuh ‘Gamolan’ Terlama

Standar
Rekor Muri 'Gamolan'

Rekor Muri 'Gamolan'

Bandarlampung (ANTARA) – Lampung tercatat dalam urutan 5233 rekor muri penabuh alat musik Gamolan terlama yakni 25 jam, 25 group dan 25 gamolan.

“Kami tim Muri mencatat secara sah kepada warga Lampung yang telah menabuh alat musik Gamolan Lampung terlama selama 25 jam,” kata Deputi Muri, Damian Awan Raharjo, di Bandarlampung, Kamis.

Alat musik tradisional yang dimainkan oleh siswa SMU negeri 2 Bandarlampung itu, berhenti pada pukul 11.05 wib.

Sementara dalam sambutan pemecah rekor muri penabuh gamolan sekaligus menyematan gelar adat pada peneliti gamolan asal Australia, Gubernur Lampung Sjahcroedin ZP, mengatakan akan mempatenkan alat musik itu sebagai salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Waykanan, Lampung.

“Kami akan patenkan alat musik itu, supaya seluruh dunia mengetahui, bahwa alat musik itu asalnya dari Lampung,” kata Oedin, panggilan akrab gubernur.

Dia juga mengatakan, bulan Desember, akan menggelar parade kebudayaan Lampung.

“Ketika semua orang berfikir untuk berlibur pada akhir tahun, nah, kita akan mengadakan pertunjukkan kebudayaan khas Lampung,” katanya.

Gamolan merupakan alat musik tradisional lampung yang berasal dari Skala Brak, Lampung barat. Alat musik tersebut dibuat dari Bambu Betung, lalu dilaraskan menjadi pelog enam dengan nada do, re, mo, sol, la, si, do.

Alat musik itu juga dipakai untuk mengiringi sastra lisan dan tari. Gamolan yang diperkirakan berasal dari kata `gamel` (sansekerta) yang berarti memukul dipakai oleh orang India, kemudian kata itu bergeser menjadi “gamolan” oleh bangsa Cina yang berarti berkumpul.

Kemudian, alat musik itu dipakai oleh orang Lampung untuk mengumpulkan orang. Gamolan diperkirakan diciptakan pada abad IV Masehi dan mengalami puncak perkembangan pada abad V masehi.

Menurut peneliti alat musik tersebut, Margaret, Gamolan adalah jenis alat musik Xilophone yang telah didatangkan dari Asia Tenggara sampai Afrika pada abad V Masehi. kemudian baru dilukis di Candi Borobudur pada abad VIII Masehi.

Sumber: Antara.Kamis, 08 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s